Feeds:
Pos
Komentar

Klasifikasi potensi energi panas bumi adalah pengklasifikasian potensi energi panas bumi
berdasarkan hasil penyelidikan geologi, geokimia dan geofisika, teknik reservoar, serta
estimasi kesetaraan listrik.

KLASIFIKASI POTENSI
1. Dasar-dasar Estimasi Potensi Energi Panas Bumi
Estimasi potensi energi panas bumi ini didasarkan pada kajian ilmu geologi, geokimia,
geofisika dan teknik reservoar.
Kajian geologi lebih ditekankan pada sistem, vulkanis, struktur geologi, umur batuan, jenis
dan tipe batuan ubahan dalam kaitannya dengan sistem panas bumi.
Kajian geokimia ditekankan pada tipe dan tingkat maturasi air, asal mula air panas, model
hidrologi dan sistem fluidanya.
Kajian geofisika menghasilkan parameter fisis batuan dan struktur bawah permukaan dari
sistem panas bumi.
Kajian teknik reservoar menghasilkan fase teknik yang mendefinisikan klasifikasi
cadangan termasuk sifat fisis batuan dan fluida serta permindahan fluida dari reservoar.
Dari keempat kajian tersebut diatas diperoleh potensi energi dan model sistem panas
bumi.

2. Metoda Estimasi Potensi Energi Panas Bumi
Estimasi potensi energi panas bumi dapat dilakukan dengan cara :
a) mengestimasi kehilangan panas (natural heat loss) yang dilakukan pada awal
eksplorasi.
b) Membandingkan dengan daerah panas bumi lain yang mempunyai kemiripan
lapangan dan telah diketahui potensinya.
c) Mengestimasi energi panas yang terkandung dalam batuan maupun fluida.
d) Mengestimasi kandungan massa fluida dengan memperhitungkan energi panas
yang terdapat dalam fluida (air panas maupun uap).

3. Tahapan Penyelidikan Dan Pengembangan Panas Bumi
Tahapan penyelidikan dan pengembangan panas bumi yang berkaitan dengan klasifikasi
potensi energi (lihat Alur kegiatan penyelidikan dan pengembangan panas bumi dan
lampiran) adalah sebagai berikut :
3.1 Penyelidikan Pendahuluan/Rekonaisan
Kegiatan ini meliputi studi literatur dan peninjauan lapangan (geologi, geokimia). Dari
penyelidikan ini akan diperoleh peta geologi tinjau dan sebaran manifestasi (seperti : air
panas, steaming ground, tanah panas, fumarol, solfatar), suhu fluida permukaan dan
bawah permukaan serta parameter panas bumi lainnya yang berguna untuk panduan
penyelidikan selanjutnya.

3.2 Penyelidikan Pendahuluan Lanjutan
Dalam penyelidikan pendahuluan lanjutan ini dilakukan penyelidikan geologi, geokimia,
dan geofisika.
Penyelidikan geologi dilakukan dengan pendataan dari udara dan permukaan yang
menghasilkan peta geologi pendahuluan lanjutan, dilengkapi dengan penyelidikan
geohidrologi dan hidrologi yang menghasilkan peta hidrogeologi.
Penyelidikan geokimia meliputi pengamatan visual, pengambilan contoh analisis kimia air,
gas serta tanah. Hasilnya berupa peta anomali unsur-unsur kimia yang terkandung di
dalam air, gas dan tanah, jenis fluida bawah permukaan, asal-usul fluida serta sistem
panas bumi.
Penyelidikan geofisika yang digunakan adalah pemetaan geofisika dan menghasilkan peta
geofisika dengan interval yang memungkinkan untuk dibuat kontur.

3.3 Penyelidikan Rinci
penyelidikan rinci dilakukan berdasarkan rekomendasi dari penyelidikan sebelumnya, yang
lebih dititik beratkan pada penyelidikan ilmu kebumian terpadu (geologi, geokimia,
geofisika), dan dilengkapi pemboran landaian suhu.
Pada penyelidikan geologi dilakukan pemetaan geologi rinci dengan skala yang lebih besar
daripada peta pendahuluan lanjutan, termasuk di dalamnya pemetaan batuan ubahan.
Penyelidikan geokimia dilakukan dengan interval titik yang lebih rapat dan lokasi
penyelidikannya lebih terarah berdasarkan hasil penyelidikan sebelumnya. Hasilnya
berupa peta anomali unsur kimia dan model hidrologi.
Penyelidikan geofisika dilakukan dengan cara pemetaan dan pedugaan yang
menghasilkan peta anomali dan penampang tegak pendugaan sifat fisis batuan.
Pada sumur landaian suhu dilakukan juga penyelidikan geologi, geokimia dan geofisika,
yang menghasilkan penampang batuan, sifat fisis serta kimia batuan dan fluida sumur.
Analisis data terpadu dalam tahap penyelidikan ini menghasilkan model panas bumi
tentatif dan saran lokasi titik bor eksplorasi.

3.4 Pengeboran Eksplorasi (wildcat)
Pengeboran eksplorasi (wildcat) adalah kegiatan pengeboran yang dibuat sebagai upaya
untuk mengindentifikasi hasil penyelidikan rinci sehingga diperoleh gambaran geologi,
data fisis dan kimia bawah permukaan serta kualitas dan kuantitas fluida.

3.5 Prastudi Kelayan
Kajian mengenai potensi panas bumi berdasarkan ilmu kebumian dan kelistrikan yang
merupakan dasar untuk pengembangan selanjutnya.

3.6 Pengeboran Delineasi
Kegiatan pada tahap ini adalah pengeboran eksplorasi tambahan yang dilakukan untuk
mendapatkan data geologi, fisik dan kimia reservoar serta potensi sumur dari suatu
lapangan panas bumi.

3.7 Studi Kelayakan
Kajian mengenai kelistrikan dan evaluasi reservoar untuk menilai kelayakan
pengembangan lapangan panas bumi dilengkapi dengan rancangan teknis sumur produksi
dan perancangan sistem pembangkit tenaga listrik.

3.8 Pengeboran Pengembangan
Jenis kegiatan yang dilakukan adalah pengeboran sumur produksi dan sumur injeksi untuk
mencapai target kapasitas produksi. Pada tahap pengeboran pengembangan ini dilakukan
pengujian seluruh sumur yang ada sehingga menghasilkan kapasitas produksi.

3.9 Pemanfaatan Panasbumi
Panasbumi dapat dimanfaatkan dengan dua cara yaitu dengan cara pemanfaatan
langsung dan tidak langsung.

semoga bermanfaat, dzikrieprima

TIGA KEPUTUSAN YANG HARUS DIAMBIL SEBELUM MELAKUKAN PENELITIAN:
  • Keputusan metodologis, yang intinya berkaitan dengan substansi penelitian
  • Keputusan organisatoris, yakni bagaimana penelitian tersebut akan diorganisasikan
  • Keputusan pendanaan, yang berkaitan dengan masalah keuangan/budget

dalam hal ini keputusan-keputusan akan membuat suatu acara yang kita ingin buat menjadi sukses, karena kita memang harus merencanakannya terlebih dahulu dengan matang.

PERTIMBANGAN LAIN:

  • Pengembangan ilmu/ penelitian dasar/basic research
  • Penelitian terapan/ applied research
  • Penelitian penunjang kebijakan /policy research

hal ini di peruntukan sebagai pertimbangan dari keputusan yang pertama kita ambil tadi, pertimbangan di sini di peruntukan agar kita tidak melenceng jauh dari teori yang ada. didalam proposal tidak ada perbedaan dalam tuntutan tinggi rendahnya mutu, hanya ada perbedaan dalam tujuan saja.

LAPORAN PENELITIAN

INGAT bahwa tidak ada suatu “correct” propsal. yang ada hanya ada “proposal yang baik” dan “proposal yang tidak baik”

Ada banyak macam proposal penelitian, yaitu:

  • Ditentukan oleh tujuan dari lembaga pemberi dana; biasanya lembaga pemberi dana membuat sebuah pedoman
  • Principal Investigator (PI) bersama anggota tim peneliti membuat proposal dengan mengikuti pedoman yang ada

Dalam garis besarnya sebuah proposal penelitian biasanaya berisi:

  1. ABSTRAK
  2. PENDAHULUAN/ LATAR BELAKANG – DIAKHIRI DENGAN MASALAH/ RUMUSAN MASALAH
  3. TUJUAN STUDI
  4. KELUARAN HASIL STUDI
  5. METODOLOGI
  6. JADWAL KEGIATAN
  7. RINCIAN BIAYA
  8. PERSONIL

KIAT MENULIS LATAR BELAKANG/PENDAHULUAN PADA PROPOSAL PENELITIAN

  1. Mulai dengan sesuati yang akan menarik perhatian pembaca, misanya dengan data atau sebuah kutipan atau ceriata singkat
  2. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari benak kita, yang menunjukkan adanya keingin-tahuan kita
  3. Jelaskan alasan-alasan mengapa perlu/ harus dilakukan penelitian; untuk itu perlu dikemukakan literatur atau tulisan yang menyebut perlunya dilakukan penelitian dalam topik ini, kurangnya perhatian dalam topik ini dan kemukakan pula manfaat dari studi yang akan dilakukan
  4. Jelaskan bagaimana kita akan melakukan penelitian
  5. Jelaskan siapa yan gakan memperoleh benefit dari hasil penelitian kita
  6. Jelaskan luaran yang akan dihasilkan dari penelitian ini
  7. Akhiri bagian pengantar dengan suatu overview dari rancangan yang kita buat

KIAT MENULIS PERUMUSAN MASALAH PADA PROPOSAL PENELITIAN

MASALAH UMUM >> MASALAH KHUSUS >> RUMUSAN MASALAH

Secara umum kita harus memiliki alur pikir yang jelas mengenai pemilihan masalah dan mengapa masalah tersebut perlu di teliti. hal ini secara sederhana dapat dimulai dengan permulaan pertanyaan dalam penelitian tersebut yaitu:

  1. WHAT IS THE PROBLEM?
  2. WHY IS IT A PROBLEM?
  3. WHERE?
  4. WHO HAS DONE WHAT ABOUT RESEARCH ON THIS PROBLEM?
  5. HOW?

KIAT MENULIS KERANGKA TEORITIS PADA PROPOSAL PENELITIAN

  1. Perlu dikemukakan kerangka teoritis dan dideskripsikan hubungan antara masalah yang diteliti dengan kerangka tersebut
  2. Hubungan dengan penelitian terdahulu
  3. Mutlak melakukan literatur review guna memperoleh pemahaman teoritis dan permasalahan yang di teliti
  4. Melihat apa yang telah dan belum dilakukan serta yang dapat dilakukan untuk mengisi kekurangan

KIAT MENULIS TUJUAN PENELITIAN PADA PROPOSAL PENELITIAN

  1. Harus dirumuskan secara jelas
  2. Dengan perumusan sedemikian peneliti akan lebih mudah menjabarkan tujuan ini kedalam variabel-variabel yang dapat diukur
  3. Perlu bertanya apa yang ingin dipelajari atau diketahui dari masalah
  4. Kemudian membuat list dari pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab berdasarkan penelitiannya

KIAT MENULIS HIPOTESA PADA PROPOSAL PENELITIAN

  1. Suatu dugaan tentang ada atau tidaknya hubungan sebab akibat
  2. Tidak selalu dikemukakan dalam penelitian yang eksploratif
  3. Dalam explanatory research, harus dikemukakan dengan jelas, karena tujuannya untuk menguji hipotesa
  4. Untuk merumuskan hipotesa dengan tepat, diperlukan informasi yang memadai tentang masalah dan kemampuan menganalisis ada atau tidaknya hubungan

KIAT MENULIS METODA PENELITIAN PADA PROPOSAL PENELITIAN

  1. Pendekatan,  konsep dan definisi yang dipakai
  2. Teknik Pengumpulan data
  3. Teknik analisa data
  4. Permasalahan dan limitasi data
  5. Populasi dan sampel
  6. Penentuan daerah penelitian

Kiat-kiat ini hanya menjadi pembatasan bagi kita yang ingin membuat prpoposal penelitian, namun bukanlah tumpuan untuk membuat proposal penelitian. Jadi tulisan yang saya buat ini tidak selamanya benar, jika ada masukan atas tulisan saya ini, maka saya sangatlah berterima kasih sekali kepada siapapun yang telah mengomentarinya.

.:dzikrie:.

Sistim panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistimhidrothermal yang mempunyai temperatur tinggi (>225oC),hanya beberapa diantaranya yang mempunyai temperatursedang (150‐225oC). Pada dasarnya sistim panas bumi jenishidrothermal terbentuk sebagai hasil perpindahan panas darisuatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secarakonduksi dan secara konveksi. Perpindahan panas secarakonduksi terjadi melalui batuan, sedangkan perpindahan panassecara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengansuatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi padadasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Air karena gayagravitasi selalu mempunyai kecenderungan untuk bergerakkebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka akan terjadiperpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan air menjadi lebih ringan.Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerakturun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.Adanya suatu sistim hidrothermal di bawah permukaan sering kali ditunjukkan oleh adanyamanifestasi panasbumi di permukaan (geothermal surface manifestation), seperti mata air panas,kubangan lumpur panas (mud pools), geyser dan manifestasi panasbumi lainnya, dimana beberapadiantaranya, yaitu mata air panas, kolam air panas sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempatuntuk mandi, berendam, mencuci, masak dll. Manifestasi panasbumi di permukaan diperkirakanterjadi karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau karena adanya rekahanrekahanyang memungkinkan fluida panasbumi (uap dan air panas) mengalir ke permukaan.

Berdasarkan pada jenis fluida produksi dan jenis kandungan fluida utamanya, sistim hidrotermaldibedakan menjadi dua, yaitu sistim satu fasa atau sistim dua fasa. Sistim dua fasa dapat merupakansistem dominasi air atau sistem dominasi uap. Sistim dominasi uap merupakan sistim yang sangatjarang dijumpai dimana reservoir panas buminya mempunyai kandungan fasa uap yang lebihdominan dibandingkan dengan fasa airnya. Rekahan umumnya terisi oleh uap dan pori‐pori batuanmasih menyimpan air. Reservoir air panasnya umumnya terletak jauh di kedalaman di bawahreservoir dominasi uapnya. Sistim dominasi air merupakan sistim panas bumi yang umum terdapat didunia dimana reservoirnya mempunyai kandungan air yang sangat dominan walaupun “boiling”sering terjadi pada bagian atas reservoir membentuk lapisan penudung uap yang mempunyaitemperatur dan tekanan tinggi.Dibandingkan dengan temperatur reservoir minyak, temperatur reservoir panasbumi relatif sangattinggi, bisa mencapai 3500C. Berdasarkan pada besarnya temperatur, Hochstein (1990) membedakansistim panasbumi menjadi tiga, yaitu:

1. Sistim panasbumi bertemperatur rendah, yaitu suatu sistim yang reservoirnya mengandungfluida dengan temperatur lebih kecil dari 1250C.

2. Sistim/reservoir bertemperatur sedang, yaitu suatu sistim yang reservoirnya mengandung fluidabertemperatur antara 1250C dan 2250C.

3. Sistim/reservoir bertemperatur tinggi, yaitu suatu sistim yang reservoirnya mengandung fluidabertemperatur diatas 2250C.

Sistim panasbumi seringkali juga diklasifikasikan berdasarkan entalpi fluida yaitu sistim entalpirendah, sedang dan tinggi. Kriteria yang digunakan sebagai dasar klasifikasi pada kenyataannya tidakberdasarkan pada harga entalphi, akan tetapi berdasarkan pada temperatur mengingat entalphiadalah fungsi dari temperatur. Pada Tabel dibawah ini ditunjukkan klasifikasi sistim panasbumi yangbiasa digunakan.

Energi Panas Bumi

Energi panas bumi, adalah energi panas yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi danfluida yang terkandung didalamnya. Energi panas bumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrikdi Italy sejak tahun 1913 dan di New Zealand sejak tahun 1958. Pemanfaatan energi panas bumiuntuk sektor non‐listrik (direct use) telah berlangsung di Iceland sekitar 70 tahun. Meningkatnyakebutuhan akan energi serta meningkatnya harga minyak, khususnya pada tahun 1973 dan 1979,telah memacu negara‐negara lain, termasuk Amerika Serikat, untuk mengurangi ketergantunganmereka pada minyak dengan cara memanfaatkan energi panas bumi. Saat ini energi panas bumi telahdimanfaatkan untuk pembangkit listrik di 24 Negara, termasuk Indonesia. Disamping itu fluida panasbumi juga dimanfaatkan untuk sektor non‐listrik di 72 negara, antara lain untuk pemanasan ruangan,pemanasan air, pemanasan rumah kaca, pengeringan hasil produk pertanian, pemanasan tanah,pengeringan kayu, kertas dll.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.